Waktu Pelaksanaan Aqiqah & Cara Menghitungnya | aqiqah jogja | aqiqah klaten | aqiqah magelang | 081390512085


WAKTU PELAKSANAAN AQIQAH

          Ayah Bunda, seperti kita tahu banyak sekali fenomena di masyarakat, tentang waktu pelaksanaan aqiqah. ada yang berpendapat selapanan 38 hari, ada yang 7 hari, 14 hari ataupun 21 hari dari kelahiran.

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya pada artikel Dasar dan Hukum Pelaksanaan Aqiqah , bahwasanya semua yang berkaitan dengan bab Ibadah harus ada dalil yang mendasarinya. begitupun dengan waktu pelaksanaan dari aqiqah ini

aqiqah jogja
Waktu Pelaksanaan Aqiqah - www.wahidaqiqah.com

AQIQAH DILAKSANAKAN PADA HARI KE-7 DARI KELAHIRAN


Ayah bunda, ada salah satu hadist dari Rasulullah berkaitan dengan hal ini:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »
Dari Samuroh bin Jundub,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.”
 (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari hadist ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi. begitupun dengan prosesi lainnya, yang sebelumnya sudah kita bahas dalam artikel Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah yaitu pemberian nama dan pemotongan rambut bayi


AQIQAH DILAKSANAKAN SELAIN PADA HARI KE-7 DARI KELAHIRAN


lantas, bagaimana jika pada hari ke-7, ada suatu halangan yang tidak bisa dilakukan aqiqah oleh orang tua bayi? jika pas hari tersebut orang tua tidak mempunyai uang yang cukup, atau orang tua dan bayi masih sakit, atau ada halangan lain?


berdasarkan keumuman hadits Sulaiman bin ‘Amir Radhiyallahu anhu yang berbunyi :
مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى
Bersama anak bayi ada aqiqah, sehingga sembelihlah sembelihan dan hilangkan gangguan darinya (mencukurnya). [HR al-Bukhâri no. 5049].
Oleh karena itu dalam madzhab Hambali dan pendapat ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dan Ishâq bin Rahawaih rahimahullah dinyatakan bahwa bila tidak bisa disembelih pada hari ketujuh, maka boleh disembelih pada hari keempat belas dan bila tidak bisa maka disembelih pada hari keduapuluh satu. Apabila disembelih sebelumnya atau sesudahnya juga sah karena tujuan penyembelihan terwujud dengannya.
Adapun madzhab Syafi’iyah menegaskan bahwa aqaiqah tidak gugur dengan sebab tertunda, namun disunnahkan untuk tidak menunda penyembelihan aqiqah hingga memasuki usia baligh. [lihat al-Mughni 9/364 cetakan Darul Fikr]. SUMBER
Sebagian ulama lainnya tidak membatasi waktu pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Jika tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh maka boleh pada hari ke-14, jika tidak bisa boleh dikerjakan pada hari ke-21.
Berdalil dari riwayat Thabrani dalm kitab “As-Shagir” (1/256) dari Ismail bin Muslim dari Qatadah dari Abdullah bin Buraidah. SUMBER


aqiqah jogja
Waktu Pelaksanaan Aqiqah - www.wahidaqiqah.com

AQIQAH DILAKSANAKAN PADA BAYI YANG KEGUGURAN?

Lantas, bagaimana juga kewajiban kita sebagai orang tua jika bayi kita meninggal dalam kandungan atau keguguran? atau meninggal pada saat dilahirkan? apakah masih mendapat kewajiban yang sama untuk ber aqiqah?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullahpernah menjawab sebuah pertanyaan dari orang tua yang menanyakan kewajiban aqiqah atas bayi yang meninggal dalam kandungan (keguguran),
 beliau menjawab, "Jika bayi dilahirkan setelah bayi dalam kandungan sempurna empat bulan, ia tetap diaqiqahi dan diberi nama. Karena bayi yang telah mencapai empat bulan dalam kandungan sudah ditiupkan ruh dan ia akan dibangkitkan pada hari kiamat.”

dan ketika beliau diitanya, bagaimanakah hukumnya terhadap bayi yang meninggal ketika dilahirkan, apakah masih ada kewajiban aqiqah atasnya? dan apakah ia diberi nama?

beliau pun menjawab, "“Jika anak termasuk mati beberapa saat setelah kelahiran, ia tetap diaqiqahi pada hari ketujuh. 
Hal ini disebabkan anak tersebut telah ditiupkan ruh saat itu, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat. Dan di antara faedah aqiqah adalah seorang anak akan memberi syafa’at pada kedua orang tuanya. 
Namun sebagian ulama berpendapat bahwa jika anak tersebut mati sebelum hari ketujuh, maka gugurlah aqiqah. Alasannya, karena aqiqah barulah disyariatkan pada hari ketujuh bagi anak yang masih hidup ketika itu. Jika anak tersebut sudah mati sebelum hari ketujuh, maka gugurlah aqiqah. 
Akan tetapi, barangsiapa yang dicukupkan rizki oleh Allah dan telah diberikan berbagai kemudahan, maka hendaklah ia menyembelih aqiqah. Jika memang tidak mampu, maka ia tidaklah dipaksa.
Dan diberi nama jika ia keluar setelah ditiupkannya ruh yaitu bila genap empat bulan dalam kandungan.SUMBER

AQIQAH DIRI SENDIRI KETIKA DEWASA

        Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, namun pendapat yang lebih kuat adalah dianjurkan untuk tetap melaksanakan aqiqah. 

Hasan Al-Bashri mengatakan, “Dia boleh mengakikahi diri sendiri, karena akikah itu dianjurkan baginya, dan dia tergadaikan dengan akikahnya. Karena itu, dia dianjurkan untuk membebaskan dirinya.”


Abdul Malik pernah bertanya kepada Imam Ahmad, “Bolehkah dia berakikah ketika dewasa?” Ia menjawab, “Saya belum pernah mendengar hadis tentang akikah ketika dewasa sama sekali.” Abdul Malik bertanya lagi, “Dulu bapaknya tidak punya, kemudian setelah kaya, dia tidak ingin membiarkan anaknya sampai dia akikahi?” Imam Ahmad menjawab, “Saya tidak tahu. Saya belum mendengar hadis tentang akikah ketika dewasa sama sekali.” kemudian Imam Ahmad mengatakan, “Siapa yang melakukannya maka itu baik, dan ada sebagian ulama yang mewajibkannya.” (Tuhfatul maudud, Hal. 87 – 88)
Setelah membawakan keterangan di atas, Syekh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan, “Pendapat pertama yang lebih utama, yaitu dianjurkan untuk melakukan akikah untuk diri sendiri. Karena akikah sunah yang sangat ditekankan. Bilamana orang tua anak tidak melaksanakannya, disyariatkan untuk melaksanakan akikah tersebut jika telah mampu. [SUMBER]

CARA PENGHITUNGAN PELAKSANAAN AQIQAH


Disebutkan dlm Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah,
وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها
“Mayoritas ulama pakar fiqih berpandangan bahwa pada waktu siang, pada hari kelahiran adalah awal hitungan tujuh hari.
Sedangkan pada waktu malam tidaklah jadi hitungan jika bayi tersebut dilahirkan malam, namun yang jadi hitungan pada hari berikutnya
Misalnya ada bayi yang lahir pada hari Senin (01/01/19), pukul enam pagi, maka hitungan pada hari ketujuh sudah mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilaksanakan pada hari Ahad (07/01/19).
Jika bayi tersebut lahir pada hari Senin (01/01/19), pukul enam sore, maka hitungan awalnya tidak dimulai pada hari Senin, namun dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi tersebut pada hari Senin (08/01/19)


Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,
قوله: ” تذبح يوم سابعه ” ، أي: يسن أن تذبح في اليوم السابع ، فإذا ولد يوم السبت فتذبح يوم الجمعة يعني قبل يوم الولادة بيوم، هذه هي القاعدة
Maksud sabda beliau, ‘Disembelih di hari ketujuh’ artinya dianjurkan untuk di sembelih di hari ketujuh setelah lahiran. Jika dilahirkan di hari sabtu, maka disembelih di hari jumat, artinya sehari sebelum hari lahiran. Inilah kaidahnya. (as-Syarh al-Mumthi’, 7/493). SUMBER

Ayah Bunda, dari pembahasan di atas, amat sangat di tekankan untuk melaksanakan penyembelihan hewan aqiqah pada hari ke-7 sejak kelahiran dari bayi, namun jika belum di berikan kelonggaran, baik itu rizqi maupun ada sesuatu hal tentunya tidak menjadi sebuah kesalahan jika tidak bertepatan pada hari ke-7 dari kelahiran bayi
Semoga Allah selalu berikan kita kemudahan dalam setiap urusan kita. Barakallahfiikum


Baca Juga Artikel Kami yang Lain:
1